Tujuh Kerangka Watak Manusia Yang Mulia
ORHIBA merupakan sarana untuk meningkatkan martabat diri kita sebagai MANUSIA. MANUSIA itu adalah makhluk Ilahi yang mempunyai kewajiban: yang dalam sesanti atau ungkapan Jawa (Kejawen) ialah “memahayu hayuning bawono”. Dalam agama Hindu dinyatakan MANUSIA sebagai “Penegak Dharma mewujudkan jagathita”, dalam ajaran Alkitab MANUSIA adalah “Pewaris Kerajaan Allah”, dalam AlQuran MANUSIA itu adalah “Penguasa Bumi dan Langit”. Semua agama dalam inti hakekat ajarannya tidak jauh berbeda, mempunyai tujuan membimbing umatNYA agar dapat mewujudkan masyarakat yang sejahtera, selamat, bahagia. Namun dalam kenyataannya dunia masih kacau, masih banyak mengalami bencana dan celaka, sesama manusia masih saling bertengkar, berkelahi dan berperang, masih jauh dari berwatak mulia.
MANUSIA adalah makhluk Ilahi, yang dalam semua agama digambarkan atau dituntut untuk mempunyai watak yang mulia. Watak yang mulia itu paling tidak memiliki tujuh ciri :
1. Rendah hati. Dengan pengakuan bahwa Tuhan Yang Maha Esa adalah DIA, yang menciptakan, mengatur dan memelihara alam semesta dengan segala isinya, kekuatan yang memegang kedaulatan di alam semesta, dia sadar bahwa untuk kedamaian, keselamatan, kebahagiaan, sertasuksesnya menjalani kehidupan adalah atas perekenanNYA. Oleh karena ituMANUSIA tidak akan berani menyombongkan diri atas kelebihan yang dia miliki dari orang lain,karena yang dia rasakan sebagai miliknya itu adalah pemberian Tuhan, adalah milik Tuhan. Sebaliknya dia juga tidak rendah diri,betapa pun kekurangan dan kelemahan yang ada dalam dirinya, karena adanya kekurangan dalam dirinya diartikan belum tepatnya dia berperilakusebagaimana kehendakNYA.
2. Sabar. Watak kesabaran merupakan watak yang dianjurkan dalamsemua agama, sebagai lawan dari watak suka marah,mudah putus asa, mudah menyalahkan orang lain, suka mengumpat, mencaci maki. Orang (manusia biasa) marah kalau keinginannya terhalang, dia melihat bahwa keterhalangan terwujudnya keingin itu karena sesuatu diluar dirinya, apakah orang, keadaan dan rupa-rupa lainnnya.
MANUSIA tidak mencari sebab kesalahan itu diluar dirinya, tetapi melihat faktor penyebab itu dalam dirinya. Yang dia cari adalah kekurangannya sendiri,dan sumber kekurangan itu adalah pada kurang percayanya kepada Tuhan dan Diri Sendiri.
3. Cinta. Dimaksud dengan cinta adalah kekuatan jiwa yang mempunyai sifat memberi perhatian terhadap sesuatu agar sesuatu itu mendapat haknya, keselamatan dan kebahagiaan. Cinta itu merupakan kekuatan penggerak dalam bathin manusia untuk memberi perhatian terhadap sesuatu, terlebih terhadap sesama manusia, agar dapat menjalankan hak hidupnya, sehingga tidak menderita dan tidak mengalami kesusahan. Lawan cinta adalah benci, yang merupakan kekuatan yang mendorong orang untuk mencelakan orang lain (walau dalam pikiran saja).
4. Kasih. Kasih merupakan kekuatan jiwa yang menimbulkan dorongan untuk siap memberikan sesuatu yang dimiliki dalam rangka membantu sesuatu atau sesama yang mengalami kesusahan,sehingga dengan bantuan atau pemberian itu dapat menghilangkan atau sekurang-kurangnya mengurangi kesusahan. Perwujudan untuk membentuk sikap kasih dalam agama diwujudkan dengan bentuk pengorbanan, ialah menggunakan milik yang terbaik untuk menjalankan ajaran agama.
5. Setia. Setia adalah sifat utama yang diajarkan oleh semua agama. Setia berarti berpegang teguh pada kebenaran. Dalam agama kesetiaan itu dimulai pada kesetiaan dalam bathin, kesetiaan mewujudkan apayang diucapkan, dan berbuat yang sesuai dengan kebenaran.
6. Tolong menolong. Kehidupan manusia bersama dengan lingkungan merupakan ikatan saling tergantung, artinya bahwa keberadaan kita sebagai pribadi didukung oleh adanya sesuatu yang di luar baik manusia,makhluk lain dan alam. Sifat tolong menolong dimaksudkan dengan keharusan untuk berbagi, dimana manusia menyadari kelebihan dan kekuarangannya, sehingga dalam ikatan masyarakat terwujud suatu situasi dan kondisi damai, jauh dari ketegangan, dan bahagia.
7. Agung/Mulia. Manusia itu secara kodrat ditempatkan sebagai Ciptaan Yang Paling Sempurna di antara semua ciptaan Tuhan. Manusia diantara sesama tidak perlu mencari-cari kehormatan dan kemuliaan, mengikuti keinginan jiwa individu yang egosentris. Kemuliaan manusia dalam masyarakat adalah kemampuan untuk mewujudkan kebersamaan, mewujudkan yang menjadi cita-cita bersama. Dalam simbul ORHIBA, rumusan cita-cita bersama itu berupa persatuan dan kesatuan keyakinan, persatuan dan kesatuan persaudaraan dan persatuan dan kesatuan pengabdian.
Dengan memiliki Badan Daging yang sehat, kuat dan hidup, sebagai hasil ORHHIBAnya, seyogyanya setiap warga ORHIBA dapat mengalahkan sifat-sifat yang rendah (mengikuti hawa nafsu hewani, sombong, serakah, iri, dendam, dengki, dan yang sejenisnya) yang menurunkan martabat kehormatan dan kemuliaaan dirinya. Selama watak yang rendah belum dapat diubahkan menjadi watak yang, manusia kita belumdapat disebut sebagai MANUSIA pemayu hayuning bawono. Oleh karena itu marilah sebagai warga ORHIBA kita berjuang dalam diri masing-masing (inner revolution) agar dapat memiliki watak manusia yang mulia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar